Jumat, 14 Januari 2011

Hari Perhitungan (Day of Reckoning) bagi Kapitalisme telah Tiba – 2




Pada posting yang lalu kita telah mengambil Prichard sebagai contoh sebuah kota yang sedang mengalami proses kematian. Kali ini kita akan menguji, apakah kota Prichard itu benar-benar merupakan potret masa depan kota-kota dan negara-negara bagian di Amerika secara keseluruhan.

Jawaban pertama muncul pada artikel yang dimuat Harian The Guardian pada 20 Desember 2010 berjudul ”$2tn debt crisis threatens to bring down 100 US cities” (Krisis Senilai Dua Trilyun Dolar Dapat Menghempaskan 100 Kota di Amerika).

Diberitakan, “Lebih dari 100 kota-kota di Amerika dapat bangkrut tahun depan (2011, penj.) karena krisis yang telah meluluh-lantakkan bank-bank dan negara-negara selanjutnya mengancam kota-kota praja, seorang analis terkemuka telah memperingatkan.

Meredith Whitney, seorang analis peneliti Amerika yang secara tepat memprediksi krisis kredit global, menguraikan utang yang dipikul kota-kota dan negara-negara bagian sebagai masalah terbesar yang menghadang ekonomi Amerika, dan suatu hal yang dapat menggagalkan pemulihan ekonomi Amerika.

‘Setelah masalah kredit perumahan, ini adalah isu yang paling penting di Amerika dan tentu saja merupakan ancaman yang paling besar bagi perekonomian Amerika,’ Whitney menjelaskan kepada program CBS 60 Minutes pada Minggu malam.

‘Tak ada keraguan di dalam pikiran saya bahwa anda akan melihat suatu gelombang default surat-surat utang kota-kota praja. Anda dapat melihat lima puluh hingga seratus default – malah lebih. Ini akan merupakan default senilai ratusan milyar dolar.’

Gubernur New Jersey Chris Christie menyimpulkan masalah ini secara ringkas: ‘Kami menghabiskan uang terlalu banyak. Kami menghabiskan uang yang sebenarnya tidak kami miliki. Kami meminjam uang secara gila-gilaan. Kartu kredit digunakan sampai maksimum, dan selesai sudah. Kini kami harus memanjat keluar dari lubang ini. Kami telah menggalinya selama satu dekade atau lebih. Kami harus memanjatnya sekarang, dan untuk memanjatnya pun menjadi semakin sukar.’

Kota-kota dan negara-negara bagian di Amerika menanggung utang total sebanyak $2 trilyun. Di Eropa, pinjaman pemerintahan lokal dan regional diperkirakan mencapai puncaknya sepanjang sejarah dengan hampir €1,3 trilyun tahun ini.

Kota-kota dari Detroit hingga Madrid tengah berjuang untuk membayar kepada para krediturnya, termasuk kepada penual jasa yang mendasar seperti layanan kebersihan kota. Minggu lalu, agen pemeringkat Moody memperingatkan tentang kemungkinan menurunkan peringkat utang kota-kota Florensia dan Barcelona, dan memotong peringkat utang Basque di Spanyol Utara. Lisabon diturunkan peringkatnya oleh agen pemeringkat Standard & Poor lebih awal pada tahun ini (2010), sementara status utang kota Napoli dan Budapes berada di tepi status murahan (junk). Bahkan status utang Istambul telah diturunkan ke status murahan (junk).

Analisis Whitney ini kemungkinan akan menaikkan profil isu utang kota-kota praja. Ketika menjadi seorang analis pada Oppenheimer, sebuah bank investasi di New York, pada Oktober 2007 ia menulis sebuah laporan yang buruk tentang Citigoup, yang merupakan bank terbesar di dunia, memprediksi bahwa bank tersebut akan memotong devidennya.Ia dikritik karena dianggap terlalu pesimis tetapi ia terbukti benar ketika bank tersebut terpaksa meminta bantuan pemerintah (bail out) setahun kemudian. Ia kemudian mendirikan firma konsultannya sendiri dan dianggap sebagai salah satu wanita yang paling berpengaruh di dalam dunia bisnis Amerika.

Negara-negara bagian di Amerika telah menghabiskan hampir setengah trilyun dolar lebih dari yang dapat mereka kumpulkan dari pajak, dan menghadapi kekurangan senilai $1trilyun pada dana pensiun mereka, demikian disebutkan oleh program CBS, yang berjudul The Day of Reckoning (Hari Perhitungan).”

Jawaban kedua ditampilkan dalam Executive Intelligence Review pada artikel tertanggal 7 Januari 2011 berjudul “U.S. States, Cities Blow Out; No Recourse but Glass-Steagall” (Negara-negara Bagian dan Kota-kota di Amerika Meledak; Tidak Ada Obatnya kecuali Glass-Steagall)

Diulas, “Kelima puluh negara bagian dan sekitar 90.000 entitas pemerintah Amerika non-federal lainnya kini tidak lagi dapat berpura-pura mampu membayar tagihan-tagihannya, dan ternyata tengah mengalami proses disintegrasi secara sangat mengerikan. Ketika kebanyakan ahli menampilkan masalah ini melulu sebagai krisis keuangan, kenyataannya adalah kehancuran entitas-entitas ini menggambarkan keruntuhan ekonomi-fisikal yang merupakan keniscayaan dari paradigm pasca-industri selama lebih dari 40 tahun, serta penjarahan standar hidup oleh sistem moneter imperialis…

Gambaran Secara Nasional

Berikut ini adalah gambaran dari krisis pada minggu pertama tahun baru
Persisnya: Pada Sensus Pemerintah 2002, Biro Sensus mengidentifikasi secara keseluruhan 87.525 pemerintahan lokal. Dibagi berdasarkan lima kategori yang digunakan oleh Biro Sensus, terdapat:

19.429 municipal governments;
16.504 town or township governments;
3.034 county governments;
13.506 school districts; dan
35.052 special district governments.

Semua institusi ini berada pada berbagai tingkatan krisis”…

Lalu artikel tersebut memerinci persoalan-persoalan yang dihadapi entitas-entitas pemerintahan non-federal tersebut yang membuat mereka bersiap-siap untuk berhenti beroperasi.

Jawaban ketiga ditampilkan oleh situs Zero Hedge edisi 12 Januari 2011 memuat analisis ringkas berjudul, "After Brief Sabbatical, Muni Massacre Is Back” (Setelah Beristirahat Sebentar, Penjagalan Kota-kota Praja Kembali Lagi). Berdasarkan contoh-contoh kurva surat utang kota-kota praja, situs ini menunjukkan bahwa kota-kota di Amerika benar-benar telah terkapar siap untuk disembelih dengan dampaknya berpotensi menjalar kemana-mana.

Jika mau, kami dapat menampilkan lebih banyak lagi berita dengan nada yang sama. Akan tetapi, tiga sumber berita mestinya sudah memadai.

Memperburuk keadaan adalah tanggapan Kepala Bank Sentral Amerika Ben Bernanke terhadap situasi yang melilit negara-negara bagian dan kota-kota di Amerika. Situs wswg.org edisi 13 Januari, dengan judul berita US Federal Reserve chief rules out loans to the states (Kepala Bank Sentral Amerika menepis pinjaman kepada negara-negara bagian) melaporkan, “Bersaksi di hadapan Komite Anggaran Senat Jumat lalu, Kepala Bank Sentral Ben Bernanke menolak setiap bantuan kepada negara-negara bagian atau pemerintah lokal di seluruh Amerika yang tengah menghadapi defisit anggaran yang masif. ‘Kami tidak bermaksud untuk terlibat dalam urusan keuangan negara bagian dan pemerintah lokal,’ ujar Bernanke, yang selanjutnya menambahkan bahwa negara-negara bagian, seharusnya tidak berharap pada pinjaman dari bank Sentral.’”

Demikianlah potret situasi terkini kota-kota dan negara-negara bagian di Amerika yang telah mencapai puncak krisis dan siap untuk meledak.

Seandainya pun para pemangku kekuasaan di negeri ini, di Indonesia, mau mengambil pelajaran dari kasus yang menimpa Amerika juga tidak ada gunanya. Waktunya telah habis…


Wallahua’lam