Jumat, 08 Oktober 2010

Pemanasan Global (Warming) Bukan Karena Aktivitas Manusia (Non-Antropogenik)!!!

Histeria pemanasan global! Itulah yang kita saksikan sejak beberapa waktu yang lalu. Yang patut disayangkan, berdasarkan penelusuran kami pada situs-situs berbahasa Indonesia yang memberitakan dan membahas ihwal pemanasan global ini, pandangan yang muncul nampak seragam. Sedikit sekali orang yang bersikap kritis terhadap genderang yang ditabuh dari negeri-negeri Barat ini. Dan yang lebih disayangkan lagi, tulisan-tulisan dengan tema ini yang menisbatkan pada Islam, juga hanya sekedar menjustifikasi pandangan arus utama, seakan-akan ditulis secara mekanis-otomatis tanpa perenungan yang mendalam. Menyadari situasi ini, kami berupaya memperbaikinya dengan suatu pembahasan yang komprehensif, tanpa terlalu menyentuh hal-hal yang bersifat teknis.

Pemanasan global

Dengan merujuk pada Wikipedia bahasa Indonesia kita mengetahui, bahwa pemanasan global adalah terjadinya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.7°C selama seratus tahun terakhir. Pemanasan global ini diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan iklim yang ekstrim lainnya.

Pemanasan global dapat disebabkan oleh tiga hal: (1) Efek rumah kaca, (2) Efek umpan balik, dan (3) Perubahan “terang” dari matahari. Dari ketiga hal ini, IPCC, sebuah badan antar negara di bawah PBB, menyimpulkan bahwa penyebab terbesar dari terjadinya pemanasan global adalah akibat akumulasi senyawa CO2 (karbon dioksida) yang tinggi di lapisan stratosfir, yang memerangkap panas matahari lalu menimbulkan efek umpan baik positif yang selanjutnya akan meningkatkan efek rumah kaca, dengan hasil akhir berupa kenaikan temperatur. Konsentrasi senyawa CO2 yang tinggi ini adalah akibat aktivitas manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil (seperti minyak bumi, gas alam dan batu bara), penggundulan hutan, dan lain-lainnya. Sedangkan kenaikan temperatur akibat aktivitas matahari dianggap minimal.

Terdapat beberapa cara yang direkomendasikan untuk mengendalikan pemanasan global. Pertama, menghilangkan kandungan CO2 di udara, yaitu dengan memelihara dan menambah jumlah pepohonan yang akan dapat menyerap CO2 lebih banyak. Selain itu direkomendasikan untuk menggunakan sumber-sumber energi terbarukan seperti energi angin, energi panas matahari, bahkan energi nuklir yang tidak melepas senyawa CO2 sama sekali.

Cara kedua yang direkomendasikan adalah membuat kerjasama dan kesepakatan internasional untuk mengurangi gas-gas rumah kaca, utamanya CO2. Setelah melalui berbagai pertemuan, akhirnya mereka sampai pada ide “perdagangan karbon.” Dengan mekanisme ini setiap negara akan mendapat batasan jumlah CO2 yang boleh dilepas ke udara. Jika suatu negara dapat menekan jumlah karbon yang diproduksi di bawah batas toleransi, maka selisih dari alokasi karbon itu dapat dijual kepada negara-negara yang masih memproduksi karbon di atas batas toleransi. Seakan-akan ingin diciptakan suatu mekanisme “reward and penalty” kepada setiap negara yang menyetujui kesepakatan ini.

Tantangan terhadap IPCC

Sebagaimana diketahui, pada banyak negara maju, terdapat dua kelompok ilmuwan yang saling berbeda pendapat. Kelompok pertama setuju dengan pandangan IPCC bahwa pemanasan global terjadi akibat aktivitas manusia (Anthropogenic Global Warming), sehingga upaya-upaya penanggulangan ditekankan pada pengurangan bahkan penghentian aktivitas manusia yang berhubungan dengan emisi CO2. Sedangkan kelompok kedua menolak pandangan tersebut, menganggap perubahan temperatur tidak berhubungan dengan aktivitas manusia. Kedua kelompok tersebut saling mengajukan buktinya masing-masing, selain juga saling menohok punggung lawannya seraya saling melontarkan isu, bahwa kelompok lawan mempunyai agenda tersembunyi tertentu, atau didanai oleh industri-industri tertentu dengan kepentingan tertentu pula.

Hal yang sama juga terjadi di Amerika Serikat. Agaknya tantangan terbesar terhadap gagasan-gagasan yang dikeluarkan oleh IPCC ini datang dari kelompok ilmuwan Amerika Serikat yang dikenal sebagai kelompok Petisi Oregon. Pada Agustus 2007 Profesor Frederick Seitz, seorang yang sangat terpandang di lingkungan ilmuwan Amerika, mantan Presiden Akademi Sains Amerika dan mantan Rektor Universitas Rockefeller, menyetujui sebuah makalah yang disusun oleh Arthur B. Robinson, Noah E. Robinson, dan Willie Soon yang berjudul, "Environmental Effects of Increased Atmospheric Carbon Dioxide." Ia lalu memberikan surat pengantar agar makalah tersebut diedarkan kepada seluruh ilmuwan Amerika untuk mendapatkan penilaian dan persetujuan. Isi makalah itu tak lain adalah pembuktian bahwa perubahan temperatur tidak berhubungan dengan aktivitas manusia, sehingga tidak perlu ada keraguan dalam penggunaan energi fosil semacam minyak, gas, dan batu bara. Makalah itu juga menyatakan bahwa pemanasan global yang terjadi adalah hal yang wajar yang selalu terjadi di dalam sejarah bumi itu sendiri, sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Petisi itu, yang sebenarnya telah mulai diedarkan pada 1998 dan pada hakekatnya adalah permintaan dukungan dari para ilmuwan Amerika akan pandangan di atas, hingga saat ini telah mendapat sambutan dukungan dari 31.487 orang penandatangan dengan 9.029 orang di antaranya bergelar Ph.D. dari berbagai bidang sains dan teknologi.

Sebuah penelitian ilmiah lain juga telah menantang kesimpulan IPCC. Pada 2005, Henrik Svensmark, seorang ahli fisika Denmark, menemukan bukti penelitian bahwa matahari dan galaksi menentukan iklim di bumi. Ia dapat menunjukkan dengan sangat meyakinkan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara besarnya medan magnit matahari, terbentuknya awan, dan tinggi temperatur di bumi. Jika aktivitas medan magnit matahari meninggi, akan dihasilkan sinar kosmis yang rendah, lalu akan terbentuk awan yang sedikit, maka temperatur di bumi pun akan memanas, demikian pula sebaliknya. Akan tetapi, karena berbagai alasan tak satu jurnal ilmiah pun bersedia mempublikasikannya. Bahkan ketika melakukan presentasi di depan pada ilmuwan lainnya di Birmingham Inggris pada 2006, ia mendapat cemoohan yang membuatnya sangat terkejut dengan iklim ilmiah di antara para ilmuwan itu sendiri.

Kaum rentenir dan spekulan global menunggangi isu pemanasan global melalui perdagangan karbon, cap-and-trade.

Histeria pemanasan global tak mungkin lepas dari pengamatan para rentenir dan spekulan global. Cermatilah tulisan Matt Taibbi di Majalah Rolling Stone edisi 9 Juli 2009, “The Great American Bubble Machine” (Mesin Penghasil Gelembung Amerika yang Besar). Di dalam tulisannya itu Taibbi menohok bank investasi raksasa, Goldman Sachs. Setelah menguraikan lima macam gelembung yang telah ditukangi oleh Goldman Sachs, Taibbi menguraikan gelembung yang keenam, yang paling mutakhir, global warming!

“Saat ini adalah awal Juni di Washington, D.C. Barack Obama, seorang politsi muda yang populer di mana donator kampanye pribadinya yang utama adalah sebuah bank investasi bernama Goldman Sahcs – para karyawannya membayar sekitar $981.000 bagi kampanyenya – duduk di Gedung Putih. Setelah menapaki ladang ranjau era bailout tanpa meninggalkan jejak, Goldman sekali lagi kembali ke bisnis lamanya, mengorek-ngorek informasi, mencari celah-celah pasar baru yang diciptakan pemerintah dengan bantuan dari sejumlah alumninya yang menduduki jabatan-jabatan kunci di pemerintahan.

SEBAGAIMANA YANG DIBAYANGKAN OLEH GOLDMAN, PERANG UNTUK MENGHENTIKAN PEMANASAN GLOBAL AKAN MENJADI SEBUAH PASAR KARBON BERNILAI $1TRILYUN PERTAHUN

Hank Paulson dan Neel Kashkari telah pergi, di posisinya kini adalah kepada staf Dep. Keuangan Mark Patterson dan kepala CFTC Gary Gensler, keduanya mantan orang Goldman (Gensler adalah bekas kepala keuangan perusahaan tersebut). Dan sebagai ganti dari credit derivatives atau perdagangan berjangka minyak atau mortgage-backed CDO, permainan barunya, gelembung berikutnya, adalah pada kredit karbon (carbon credit) – suatu pasar trilyunan dolar yang tengah berkembang pesat yang bahkan belum ada, tetapi akan ada jika Partai Demokrat yang disumbangnya $4.452.585 pada pemilu yang terakhir dapat menggolkannya menjadi suatu gelembung komoditas baru yang sesungguhnya, yang ditutup-tutupi sebagai ‘rencana lingkungan hidup,’ disebut ‘batasi-dan-perdagangkan’ (‘cap-and-trade’).

Pasar kredit karbon adalah benar-benar pengulangan dari mesin kasino pasar-komoditas yang telah bermurah hati kepada Goldman, kecuali kini ia mempunyai satu trik baru nan rancak: Jika rencana tersebut bergerak maju sebagaimana yang direncanakan, kenaikan harga akan merupakan ketetapan pemerintah. Goldman bahkan tidak harus mencurangi permainan. (Aturan) permainan itu justru akan dicurangi duluan.

Beginilah bagaimana cara kerjanya: Jika undang-undang itu diloloskan; akan ada pembatasan emisi karbon (disebut juga gas rumah kaca) yang boleh mereka hasilkan per tahun untuk kilang-kilang batu bara, pembangkit-pembangkit, distibutor gas alam dan berbagai industri lainnya. Jika perusahaan-perusahaan itu melampaui batasan yang telah ditetapkan, mereka akan dapat membeli ‘alokasi’ atau kredit dari perusahaan-perusahaan lain yang mampu memproduksi dengan emisi karbon yang lebih rendah. Presiden Obama secara konservatif memperkirakan bahwa akan ada pelelangan kredit karbon senilai sekitar $646 milyar dalam tujuh tahun pertama; salah satu dari pembantu eknominya berspekulasi bahwa angka sebenarnya bisa dua kali bahkan tiga kali jumlah tersebut.

Keutamaan dari rencana ini yang memberikan daya tarik khusus bagi para spekulan adalah bahwa ‘batasan’ (cap) emisi karbon akan selalu diturunkan (diperketat) oleh pemerintah, yang berarti bahwa ketersediaan kredit karbon akan menjadi semakin langka dengan berjalannya waktu. Yang berarti bahwa ini adalah pasar komoditas yang benar-benar baru di mana komoditas utama yang diperdagangkan dijamin harganya akan naik dengan berjalannya waktu. Volume dari pasar baru ini akan bergerak di atas setrilyun dolar setahunnya; sebagai perbandingan, total pendapatan keseluruhan tahunan suatu pemasok energi listrik di AS adalah $320 milyar.

Goldman menginginkan undang-undang ini. Rencananya adalah (1) masuk ke bagian dasar perubahan paradigm legislasi, (2) memastikan bahwa mereka adalah bagian yang akan mendapatkan keuntungan dari paradigm itu, dan (3) memastikan bagian itu adalah bagian yang besar. Goldman mulai mendesakkan cap-and-trade jauh sebelumnya, tetapi keadaannya benar-benar sulit tahun lalu ketika perusahaan tersebut menghabisan $3,5 juta untuk melakukan lobi pada isu-isu perubahan iklim. (Salah satu dari pelobi mereka pada waktu itu tak lain adalah Patterson, kini kepala staf Dep. Keuangan).

Pada 2005, ketika Hank Paulson masih sebagai kepala Goldman, ia secara pribadi membantu menyusun kebijakan lingkungan hidup untuk bank tersebut, sebuah dokumen yang berisi beberapa hal yang sebenarnya mengherankan, untuk suatu perusahaan yang pada bidang-bidang lainnya telah secara konsisten menolak setiap peraturan pemerintah. Laporan Paulson menyatakan bahwa ‘tindakan sukarela semata tidak dapat memecahkan masalah perubahan iklim.’ Beberapa tahun kemudian, kepala (divisi) karbon bank tersebut, Ken Newcombe, mendesak bahwa cap-and-trade semata tidak akan cukup untuk memperbaiki persoalan iklim dan mengundang investasi publik lebih lanjut dalam penelitian dan pengembangan. Secara mudahnya, menilik bahwa Goldman membuat investasi awal pada energi angin (ia membeli sebuah anak perusahaan bernama Horizon Wind Energy), mesin disel yang dapat diperbarui (ia adalah investor pada perusahaan yang bernama Changing World Technologies) dan energi panas matahari (ia berpatungan dengan BP Solar), ini adalah persis semacam transaksi-transaksi yang akan menghasilkan banyak keuntungan jika pemerintah memaksa perusahaan-perusahaan penghasil energi untuk menggunakan energi yang lebih bersih. Sebagaimana yang dikatakan Paulson pada waktu itu, ‘Kami tidak menanamkan investasi ini untuk merugi.’

Bank tersebut memiliki 10 persen saham di Bursa Iklim Chicago (Chicago Climate Exchange), di mana kredit karbon akan diperdagangkan. Lebih jauh lagi, Goldman memiliki saham minoritas di Blue Source LLC, sebuah perusahaan yang berbasis di Utah yang menjual kredit karbon dari jenis yang akan sangat dicari jika undang-undang itu diloloskan. Pemenang Hadiah Nobel Al Gore, yang terlibat sangat dekat dengan perencanaan cap-and-trade, mendirikan sebuah perusahaan yang disebut Generation Investment Management dengan tiga mantan petinggi Manajemen Aset dari Goldman Sachs, David Blood, Mark Ferguson dan Peter Haris. Bisnisnya? Investasi pada penghapusan karbon (carbon offset). Juga ada Dana Pertumbuhan Hijau (Green Growth Fund) senilai $500 juta yang dibentuk oleh seseorang dari Goldman untuk berinvestasi pada teknologi ramah lingkungan…daftarnya terus dan bertambah. Lagi-lagi Goldman berada pada barisan paling depan, hanya perlu menunggu seseorang yang akan membuatnya mengucur di tempat yang tepat. Apakah pasar ini akan lebih besar dari pada pasar berjangka energi (energy-futures market)?

‘Oh, ia akan mengerdilkannya,’ ujar seorang mantan staf komite energi DPR AS.

Baiklah, anda mungkin akan mengatakan, siapa yang peduli? Jika cap-and-trade berhasil, bukankah kita semua akan terselamatkan dari kehancuran pemanasan global? Mungkin – tetapi cap-and-trade, sebagaimana yang dibayangkan oleh Goldman, benar-benar hanya sejenis pajak yang disusun sedemikian rupa sehingga pihak swastalah yang mengeruk pendapatannya. Bukannya secara sederhana pemerintah mengenakan pajak atas polusi karbon dan memaksa penghasil enegi yang tidak bersih untuk membayar kerusakan yang mereka buat, cap-and-trade akan membenarkan suatu suku kecil Wall Street yang sangat tamak untuk memindahkan pasar komoditas lainnya ke skema penarikan pajak oleh swasta. Ini lebih buruk dari penalangan utang (bail out): Undang-undang ini akan mengijinkan bank untuk menahan uang pembayar pajak bahkan sebelum pajak itu ditagih.

‘Jika ia akan berbentuk pajak, saya lebih suka agar Washington yang menentukan pajaknya dan menariknya,’ kata Michael Masters, direktur hedge fund yang berbicara menentang spekulasi perdagangan berjangka minyak. ‘Tetapi kita mengatakan bahwa Wall Street boleh menentukan pajaknya, dan Wall Street boleh menarik pajaknya. Itu adalah hal terakhir di dunia ini yang ingin saya lakukan. Benar-benar sangat bodoh.’

Cap-and-trade akan terjadi. Atau pun, jika tidak, hal yang mirip dengan itu. Esensinya adalah sama sebagaimana gelembung-gelembung lainnya di mana Goldman telah membantu menciptakannya, dari 1929 hingga 2009. Pada hampir setiap kasus, bank yang sama yang berperilaku sangat ceroboh selama bertahun-tahun, yang meruntuhkan sistem dengan pinjaman-pinjaman beracun dan utang-utang predatornya, dan tidak mencapai hasil apa pun kecuali bonus gila-gilaan bagi sebagian kecil bosnya, telah dihadiahi segunung uang secara cuma-cuma berikut jaminan pemerintah – sementara korban yang sebenarnya, masyarakat umum pembayar pajak, adalah justru yang membayarnya.

Tidak selalu mudah untuk menerima kenyataan dari apa yang kini secara rutin kita saksikan, bahwa orang-orang ini telah dibiarkan melenggang tanpa dihukum; ada semacam pengingkaran kolektif yang menendang ke dalam ketika sebuah negeri mengalami seperti yang dialami Amerika akhir-akhir ini, ketika orang-orang kehilangan prestise dan status sebanyak yang pernah kita miliki dalam beberapa tahun yang telah berlalu. Anda tidak dapat benar-benar menerima kenyataan bahwa anda bukan lagi warga negara sebuah negara demokrasi maju, bahwa anda bukan lagi berada di atas setelah dirampok di siang hari bolong, karena seperti halnya orang yang telah diamputasi, anda terkadang merasa masih memiliki bagian tubuh yang sebenarnya telah hilang.

Akan tetapi inilah kenyataannya. Ini adalah dunia di mana kita tinggal sekarang. Dan di dalam dunia ini, sebagian dari kita harus bermain sesuai aturan, sementara sebagian lainnya mendapat pengecualian dari penguasa untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya hingga waktu berakhir, plus 10 milyar dolar cuma-cuma dalam sebuah kantung kertas untuk membeli santapan makan siang. Ini adalah negeri bajingan, berjalan di atas ekonomi bajingan, dan bahkan harga-harga pun tidak dapat dipercaya lagi; terdapat pajak terselubung pada setiap dolar yang anda bayar. Dan mungkin kita tidak dapat menghentikannya, tetapi sekurang-kurangnya kita harus mengetahui kemana semua ini akan bergerak.”

Pada Konperensi Perubahan Iklim PBB di Copenhagen Denmark Desember 2009, spekulan global George Soros tak ketinggalan hadir untuk menyampaian pandangannya. Dalam pidatonya, ia mengusulkan agar negera-negara maju mendonasikan alokasi pada Special Drwaing Rights-nya bagi dana yang dipergunakan untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi tantangan perubahan iklim. Betapapun pidatonya itu bernuansa bagaikan ucapan seorang pendeta, selayaknya orang-orang paham, bahwa tiada lain maksud kehadiran George Soros kecuali karena ia telah mengendus bau keuntungan yang berlimpah jika genderang histeria pemanasan global ini terus ditabuh.

Pandangan Islam mengenai Pemanasan Global

Betapa kasihannya kaum Muslimin. Sebagaimana biasa, mereka menjadi korban. Mereka kebingungan, hendak kemana mereka pergi?

Baiklah, bukankah sebagian besar dari para elit di negeri ini pernah mendengar ucapan yang terkenal dari ilmuwan besar Albert Einstein, “Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adakah lumpuh.” Einstein menolak rasionaliasi yang membabi buta. Maka alangkah bodoh dan ruginya kaum Muslimin yang telah menyia-nyiakan agamanya yang suci guna memahami hakekat dari fenomena pemanasan global ini.

Pada masa yang telah lalu, telah terjadi bencana yang bersifat global. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman (artinya),

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ankabuut: 14)

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

Dan Nuh berkata: ‘Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’

Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Dan difirmankan: ‘Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,’ dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: ‘Binasalah orang-orang yang zalim .’ (QS. Huud: 40-44)

Perhatikanlah betapa dahsyatnya bencana banjir ketika itu: gelombang setinggi gunung, orang-orang lari ke gunung dan kapal Nabi Nuh pun berlabuh di puncak gunung. Hal ini benar-benar menggambarkan bahwa bencana yang terjadi ketika itu adalah bencana global. Tentu tidak logis untuk menganggap, sebagaimana anggapan sebagian orang, bahwa bencana banjir ketika itu hanya terjadi pada kawasan Mesopotamia. Jika kapal hanya dapat mendarat di atas gunung, tentu karena memang yang layak sebagai tempat mendarat ketika itu hanyalah puncak-puncak gunung, sedangkan selain itu semuanya terutup air! Bukankah bencana ini adalah sebagaimana bayang-bayang bencana yang kerap memenuhi benak para aktivis lingkungan hidup pada hari ini?

Renungkanlah wahai manusia, bahwa di masa yang lalu telah terjadi bencana global yang sangat dahsyat. Perkirakanlah, berapa jumlah kaum Nuh ketika itu dan seberapa tinggi tingkat kecanggihan teknologinya yang dicurigai dapat memberikan kontribusi pada kerusakan lingkungan? Lalu perhatikanlah kembali ayat-ayat di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa bencana global yang terjadi itu tidak ada hubungannya dengan aktivitas perekonomian mereka sehari-hari, tidak ada hubungannya dengan jumlah senyawa CO2 yang telah mereka sumbangkan ke atmosfir, sama sekali tidak bersifat antropogenik! Bencana yang terjadi adalah semata-mata karena ketetapan dan perintah dari Dzat Yang Berada di atas langit, sebagai azab atas kezaliman yang mereka lakukan! Kezaliman yang dilakukan oleh kaum Nuh adalah kezaliman yang terbesar, yaitu perbuatan syirik!

Di masa depan yang dekat, kembali akan terjadi bencana yang bersifat global. Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah bersabda (artinya),

“Sesungguhnya menjelang kemunculan Dajjal ada tiga tahun yang sangat berat. Pada tahun-tahun tersebut, manusia dilanda bencana kelaparan. Pada tahun pertama, Allah memerintahkan langit untuk tidak menurunkan sepertiga hujannya, dan memerintahkan bumi untuk tidak menumbuhkan sepertiga tetumbuhannya. Pada tahun kedua, Allah memerintahkan langit untuk tidak menurunkan dua pertiga hujannya, dan memerintahkan bumi untuk tidak menumbuhkan dua pertiga tetumbuhannya. Pada tahun ketiga, Allah memerintahkan langit untuk tidak menurunkan semua hujannya, dan Allah memerintahkan bumi untuk tidak menumbuhkan semua tetumbuhannya sehingga tumbuhan hijau tidak tumbuh. Akibatnya, hewan-hewan ternak semuanya binasa dan mati kecuali yang dikehendaki hidup oleh Allah.” Beliau ditanya, “Apa yang membuat manusia hidup pada zaman itu?” Beliau menjawab, “Tahlil, takbir, dan tahmid. Itu semua mencukupi mereka seperti halnya makanan.” (HR. Ibnu Majjah, Ibnu Khuzaimah, dan Haklim dari Abu Umamah)

Renungkanlah wahai manusia, seandainya enam milyar penduduk bumi ini mulai hari ini berhenti menggunakan minyak bumi, gas alam, dan batu bara, lalu menanami seluruh permukaan bumi yang dapat ditanam dengan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang dapat menyerap CO2, menyemproti lapisan stratosfir di atas mereka dengan zat aditif yang mereka kira dapat mengurangi pemanasan global, dan segenap tindakan korektif dan preventif lainnya, semua itu tidak akan dapat menghalangi terjadinya ketetapan Allah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pada hadits di atas. Sebagaimana bencana yang telah menimpa kaum Nuh, maka bencana yang akan menimpa manusia di masa depan yang dekat ini juga bersifat non-antropogenik, tidak ada hubungannya dengan aktivitas keseharian/perekonomian mereka, tidak ada hubungannya dengan kadar CO2 yang beredar di atmosfir bumi ini! Dalam hal ini, pendapat ilmuwan Denmark Henrik Svensmark lebih mendekati kebenaran. Wallahua’lam.

Akan tetapi, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala juga telah berfirman (artinya),

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum : 41).

Ayat di atas telah dijadikan dalil oleh sebagian penulis Muslim untuk menjustifikasi, bahwa pemanasan global terjadi karena aktivitas (perekonomian) manusia, jadi bersifat antropogenik. Tidak demikian! Jika kita merujuk kepada kitab tafsir yang terkenal di antara kaum Muslimin, seperti Tafsir Ibnu Katsir, kita akan menemukan penjelasan, “Sesungguhnya kekurangan tanam-tanaman dan buah-buahan itu disebabkan oleh karena kemaksiatan. Abu al-Aliyah berkata, ‘Barangsiapa yang durhaka kepada Allah di muka bumi, berarti dia berbuat kerusakan di bumi.’”

Jelas sudah, kerusakan yang dilakukan manusia yang membuat mereka merasakan akibatnya, tidak harus berbentuk aktivitas fisik manusia semacam penggundulan hutan, sebagaimana yang sering dijadikan contoh. Jika Allah menurunkan azab, apakah karena kemungkaran besar atau kecil? Tentu kemungkaran besar! Lalu, apakah kemungkaran terbesar yang mungkin dilakukan manusia? Perbuatan syirik! Inilah dia masalah dari zaman ke zaman yang selalu Allah minta agar diperhatikan, tetapi seringkali diabaikan manusia, terlebih lagi kini di negara-negara demokrasi yang menganggap semua agama adalah sederajat, yang berimplikasi pada dibenarkan segenap penyimpangan dan penistaan terhadap agama! Inilah dosa yang selalu menimbulkan musibah dari waktu ke waktu! Renungkanlah, apakah menjadikan akal manusia sebagai penentu kebenaran di atas wahyu dari langit, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum rasionalis-sekular di negeri ini, di mana setiap orang menjadi tuhan bagi dirinya sendiri, bukan suatu bentuk perbuatan syirik? Jadi, mengertilah kita sekarang, tamu apa yang sedang kita tunggu-tunggu.

Jika kita telah memahami persoalan ini, maka isu cap-and-trade menjadi tidak relevan. Ia akan dihapus dari daftar pembahasan kaum Muslimin!

Jika kita memahami persoalan ini sebagaimana yang kami maksudkan di atas, apakah berarti kita boleh menggunduli hutan, membiarkan kendaraan dengan asap yang menyesakkan nafas lalu lalang di jalan-jalan raya, hidup dengan harta yang melimpah ruah sementara sebagian besar orang justru hidup serba kekurangan, dan berbagai perbuatan mungkar lainnya? Jiwa yang sehat tentu akan mengatakan, bahwa keimanan yang benar akan mendorong kepada segenap perbuatan baik dan menjauhi segenap perbuatan mungkar.

Cara Mitigasi Bencana yang Efektif dan Efisien

Sekarang, apa yang dapat kita lakukan untuk menghadapi musibah besar di masa depan yang dekat itu?

Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman (artinya),

“Katakanlah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi kamu semua; utusan Dzat yang kepunyaan Dia-lah kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dia menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya. Ikutilah dia supaya kamu beroleh petunjuk.’” (QS. Al-A’raaf: 158)

Beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala di atas Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah syarat untuk mendapatkan petunjuk, petunjuk yang memberi keselamatan. Inilah dia cara mitigasi yang paling efektif dan efisien dalam menghadapi musibah besar di masa depan yang dekat itu.

Wallahua’lam